Friday, October 31, 2003


  Pendeta dari Jerman Kagumi Keindahan Kabupaten Tobasa

Balige (SIB)

Rombongan Pendeta dari Jerman masing-masing Pdt Klaus Majoress, Pdt Fredrich, Ms Cornelia Etsmanky dan MS Birght Meier (Keduanya pelayan wanita gereja Jerman), Selasa (28/10) diterima Bupati Drs Sahala Tampubolon di ruang rapat kantor Bupati. Tamu dari Jerman itu didampingi Praeses HKBP Dist Toba Hasundutan Pdt EJP Lumban Toruan, Pdt Tumpak Siahaan STh, Pdt Sumanggar Naibaho STh, Pdt Sabar Manurung dan Direktur RSU HKBP Balige Dr Sabam Napitupulu SpB. Pada acara temu ramah itu, Dr Sabam Napitupulu SpB bertindak menjadi penerjemah penjelasan Bupati Drs Sahala Tampubolon kepada rombongan dari Jerman.

Dalam paparannya, Drs Sahala Tampubolon melalui slide menjelaskan kondisi Kabupaten Tobasa yang baru berusia 4 tahun lebih termasuk potensi yang dimiliki seperti keindahan alam sekitar Danau Toba, potensi pertanian maupun pertambangan. Kepada tamu dari Jerman itu dijelaskan Bupati, bahwa pola pembangunan dan pengembangan kabupaten Tobasa untuk menggapai masyarakat yang sejahtera, peranan gereja sangat dominan. Dikatakan, Gereja adalah mitra pemerintah dalam memberdayakan warga untuk suksesnya pembangunan di Tobasa. Diakui Drs Sahala Tampubolon, kemajuan warga Batak adalah atas misi pelayanan DR IL Nommensen yang menyebarkan injil ke tanah Batak. "Nommensen tidak hanya menyebarkan injil, namun mengajari orang Batak di bidang pendidikan dan kesehatan," ujar Bupati seraya mengatakan, dalam memacu pembangunan di Tobasa dibutuhkan Nomensen-Nomensen baru baik dari Jerman maupun dari para anak rantau asal Tobasa yang telah berhasil.

Dalam eksposenya, Drs Sahala Tampubolon menjelaskan misi pembangunan Tobasa dititik beratkan pada pengembangan pertanian, pariwisata dan industri yang ramah lingkungan. Pengembangan pariwisata, tidak saja hanya keindahan alam sekitar Danau Toba akan tetapi dengan program pembangunan wisata rohani dengan membenahi "Sigumpar" sebagai pusat pelayanan Nommensen sekaligus tempat pemakamannya.

Bupati Sahala Tampubolon menguraikan pengembangan Sigumpar telah dimulai dengan memindahkan SLTP dari belakang Gereja HKBP IL Nommensen Sigumpar, agar kawasan gereja dengan makam Nommensen dibangun menjadi kawasan wisata religius. Terlihat rombongan dari Jerman itu kagum menyaksikan "maket" pengembangan Sigumpar yang akan dibangun bertahap.

Drs Sahala Tampubolon juga mengungkapkan, kemampuan dana Pemkab Tobasa sangat terbatas dan untuk mewujudkan rencana itu, Pemkab menjalin kerjasama dengan warga gereja dan negara Jerman. Bupati mengimbau, lewat kunjungan rombongan Pendeta dari Jerman, program pengembangan wisata rohani Sigumpar mendapat perhatian dari pihak Gereja maupun pemerintah Jerman. Selain itu, Bupati juga menjelaskan bahwa di Tobasa tepatnya di Desa Sitoluama Laguboti, kini berdiri megah kampus Politeknik Informatika Del yang dibangun Jend (Purn) Luhut Panjaitan dengan menjalin kerjasama secara Internasional dan mutunya diakui dunia internasional.

Kagum dan bangga

Mendengar paparan dan penjelasan Bupati Drs Sahala Tampubolon tentang potensi dan program pembangunan Tobasa, Pdt Klaus Majores dalam sambutannya mengatakan sangat kagum. "Kami sangat bangga atas penerimaan dan penjelasan Bupati," ujar Pdt Klaus seraya mengatakan kekagumannya atas kerjasama gereja dan pemerintah. Menurutnya, Tobasa sudah maju dengan terarahnya program pengembangan yang dirinci dalam visi dan misi, karena dengan program itu tidak sulit lagi untuk mewujudkannya.

Diakui Pdt Klaus, kunjungannya ke Indonesia adalah yang pertama dan sebelumnya agak ragu mengunjungi Indonesia, karena informasi yang didengarnya. "Ternyata Indonesia aman dan kondusif khususnya tanah Batak dan setelah kembali ke Jerman, keadaan ini akan saya jelaskan agar warga Jerman tidak takut mengunjungi Indonesia khususnya tanah Batak dengan Danau Toba," ujar Pdt Klaus berjanji.

Cenderamata dan ulos

Pada pertemuan itu, rombongan Pdt Klaus yang sehari-hari bertugas sebagai Praeses Gereja Ludenseheid Jerman, memberikan cenderamata jam dinding bergambar gereja tertua yang dihiasi simbol HKBP dan simbol gereja Jerman kepada Bupati Drs Sahala Tampubolon.

Usai menerima cenderamata itu, Drs Sahala Tampubolon didampingi Sekdakab Drs P Simbolon, Wakil Ketua DPRD Sabam Simanjuntak memberikan ulos kepada Pdt Klaus, Pdt Frederich, Ms Cornelia dan Ms Birght Meier.

Dalam doanya diakhiri acara itu, Pdt Klaus mendoakan agar Tuhan memberikan kekuatan dan kebijakan kepada Drs Sahala Tampubolon untuk mewujudkan visi pembangunan Tobasa.

Sebelum ke Kantor Bupati, rombongan dari Jerman itu lebih dulu menjiarahi makam DR IL Nommensen di Sigumpar dan meninjau PLTA Siguragura yang dikelola PT Inalum dipandu Praeses HKBP Dist Tobasa Hasundutan Pdt EJP Lumban Toruan, Dr Sabam Napitupulu SpB dan beberapa Pendeta HKBP Dist Toba Hasundutan. (G2/k)  


  Diduga Hasil Curian dari Jakarta, Poldasu Amankan Dua Mobil dari Pangururan Tobasa

Tobasa (SIB)

Anggota Reserse Poldasu, Selasa pekan lalu amankan 2 mobil jenis Toyota Kijang dan Jeep Taft dari pemiliknya BS penduduk Kecamatan Pangururan, Kabupaten Toba Samosir. Kedua unit mobil itu diduga hasil curian dari Jakarta beberapa tahun lalu dan BS membelinya dengan harga murah. Untuk pengusutan selanjutnya, mobil itu diamankan petugas ke Mapoldasu bersama pemiliknya. Selain itu aparat Poldasu juga mengamankan 2 warga lainnya untuk dimintai keterangannya sekaitan mobil yang diduga hasil curian itu.

Menurut keterangan yang diperoleh SIB, beberapa tahun lalu BS yang dikenal tokoh pemuda dan pengusaha di Pangururan itu membeli 2 mobil masing-masing jenis Toyota Kijang dan Jeep Taft dari Jakarta. Kalangan masyarakat merasa heran mendengar informasi kedua mobil itu dibeli dengan harga murah masing-masing Rp 10 juta. Selama beberapa tahun, keberadaan 2 mobil itu aman-aman saja dan disebutkan jarang dibawa pemiliknya keluar wilayah Samosir.

Diduga, polisi telah lama menaruh curiga atas keberadaan mobil yang menggunakan nomor polisi Jakarta itu dan berupaya melakukan penyidikan. Setelah cukup bukti-bukti, Selasa (21/10) petugas Poldasu turun ke Pangururan dan mengamankan 2 unit mobil yang dicurigai hasil curian itu bersama pemiliknya BS dan 2 orang saksi lainnya ke Mapoldasu.

Kapoldasu Taput/Tobasa AKBP Drs Burhanuddin SH yang dikonfirmasi SIB lewat telepon selularnya Kamis (30/10) sore membenarkan diamankannya 2 mobil bersama pemiliknya dari Pangururan Tobasa. Menurut Kapolres yang menangani kasus itu adalah Reserse Poldasu namun sewaktu mengamankan mobil itu Selasa pekan lalu, petugas Poldasu lebih dulu memberitahukannya ke Mapolres Taput/Tobasa di Tarutung.

Kapolres juga mengakui, kedua unit mobil yang diduga hasil curian itu telah diamankan di Mapoldasu berikut pemiliknya bersama 2 orang lainnya penduduk Pangururan untuk pengusutan selanjutnya.

Menjawab pertanyaan, Kapolres itu mengatakan kurang mengetahui apakah pemiliknya BS sebagai tersangka pelaku pencurian atau sebagai penadah. "Yang menangani kasus itu adalah Mapoldasu," ujar AKBP Drs Burhanuddin SH. (G2/w)
 


  Mitra Kerja PT TPL, CV Prima Kas Bayar Ganti Rugi Rp 35 Juta Kepada Korban Kecelakaan

Pematangsiantar (SIB)

CV Prima Kas salah satu perusahaan transportasi yang merupakan mitra kerja PT TPL (Toba Pulp Lestari) telah memenuhi janjinya membayar ganti rugi kepada para korban kecelakaan termasuk pihak pemilik Angkot Mopen (Mobil Penumpang) Wisata Indah di Kecamatan Dolok Panribuan beberapa bulan lalu. Pembayaran ganti rugi sebesar Rp 35 juta kepada para korban berlangsung di Mapolsek Parapat, Kamis (30/10).

Pembayaran ganti rugi tersebut dibenarkan Kapolres Simalungun AKBP Drs Gatta Chairuddin SH dan Kasat Lantas AKP Tulus Juswantoro ketika dikonfirmasi SIB. Dikatakan, pembayaran ganti rugi sejumlah Rp 35 juta berlangsung di Mapolsek Parapat dan disaksikan oleh Kapolsek Parapat AKP P Sihotang dan para tokoh masyarakat serta pihak PT TPL selaku mitra kerjasama dengan perusahaan transportasi CV Prima Kas.

Dari Rp35 juta tersebut 5 juta untuk keluarga korban yang tewas sebanyak dua orang, Rp 3 juta untuk dua orang korban luka-luka dan Rp27 juta untuk pemilik Angkot Mopen Wisata Indah. Sedangkan mewakili pihak CV Prima Kas yang hadir pada saat acara pembayaran ganti rugi itu yakni Rudy yang mewakili pihak PT TPL Ir Leo Hutabarat.

Acara pembayaran ganti rugi ditandai dengan bukti-bukti kwitansi pembayaran kepada masing-masing pihak korban yang menerimanya. Selama pembayaran ganti rugi berlangsung tidak satupun dari para korban yang tidak puas dengan jumlah uang yang diterima dari pihak CV Prima Kas.

Keberhasilan pembayaran ganti rugi kepada para korban kecelakaan tersebut juga tidak terlepas dari upaya pendekatan pihak Polres Simalungun dan Polsek Parapat yang dalam hal ini diantaranya Kapolres Simalungun AKBP Drs Gatta Chairuddin SH, Kabag Ops AKP Ruli Agus P, Kasat Lantas AKP Tulus Juswantoro, Kapolsek Parapat AKP P Sihotaong serta para tokoh masyarakat Parapat, Camat Parapat kepada pihak CV Prima Kas. Hal ini dilakukan demi kepentingan masyarakat serta pihak perusahaan terkait yang tidak menginginkan adanya peristiwa kecelakaan maut tersebut. (B7/g)
 

Thursday, October 30, 2003


  300 Ribu Ekor Bibit Ikan Ditabur ke Danau Toba

Medan Bisnis — Medan
Sebanyak 300 ribu ekor bibit ikan mas dan nila ditaburkan di daerah suaka ikan (reservat) Danau Toba yang berlokasi di kawasan Kabupaten Simalungun, Tobasa dan Taput. Panaburan bibit (restocking) kedua jenis ikan tersebut dilakukan Kepala Dinas (Kadis) Perikanan dan Kalautan Sumut, Drs H Ridwan Batubara, dan Kadis Prikanan Simalungun, Tobasa dan Taput, Jumat (17/10).

Restokcing itu, menurut Ridwan Batubara akan dilakukan setiap tahun. Selain sebagai upaya melestarikan sekaligus meningkatkan populasi ikan mas dan nila tersebut, penaburan bibit ikan ini juga untuk meningkatkan konsumsi ekonomis dan pendapatan nelayan setempat. Menjawab wartawan, Ridwan Batubara menjelaskan, sebelumnya telah ditabur 4.000 ekor lebih bibit ikan batak ke Danau Toba. “Bibit ikan jenis langka ini merupakan hasil pembiakan Balai Benih Ikan Bogor. Diharapkan populasinya akan berkembang, mengingat danau yang dipilih untuk pengembangbiakkannya,” ujar Ridwan Batubara.
Sementara itu, salah seorang penduduk kawasan pinggiran Danau Toba, Marto Rangkuti berpendapat, penaburan bibit ikan mas dan nila ke danau tersebut akan bermanfaat secara langsung kepada masyarakat nelayan daerah itu. (ysr/rel)

 

Wednesday, October 29, 2003


  Aksi Penyetopan Truk Bermuatan Pulp PT TPL Berlanjut

Pematangsiantar (SIB)

Hingga Selasa (28/10) seratusan masyarakat Parapat masih melakukan aksi penyetopan truk-truk pengangkut pulp PT TPL (Toba Pulp Lestari) di Jalan Umum Lintas Sumatera Parapat. Hingga hari kedua, masyarakat telah menyandera 16 unit truk pengangkut pulp PT TPL yang datang dari arah Porsea menuju Medan. Dari ke-16 truk tersebut dua di antaranya tanpa muatan, sedangkan selebihnya bermuatan pulp.

Aksi tersebut tidak sampai mengganggu arus lalulintas di TKP, karena tiap-tiap truk yang disandera digiring masyarakat yang tergabung dalam aksi itu ke Terminal Bus Parapat. Menurut masyarakat, aksi serupa akan tetap digelar sebelum ada kepastian ganti rugi kepada para korban yang tewas dalam peristiwa kecelakaan antara Mopen Wisata Indah dengan truk bermuatan pulp PT TPL di Dolok Panribuan beberapa bulan lalu.

Kapolres Simalungun AKBP Drs Gatta Chairuddin SH ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (28/10) sekaitan aksi penyetopan truk bermuatan pulp PT TPL di Parapat mengatakan bahwa anggotanya telah dikirim ke TKP mengamankan jalannya aksi tersebut. Bahkan dijelaskan Gatta Chairuddin, Selasa (28/10) siang telah dilakukan pertemuan antara masyarakat dan pihak pengusaha transportasi tersebut di Parapat untuk mencari solusi terbaik.

 

Tuesday, October 28, 2003


 
DPRDSU Prihatin Tano Ponggol P Samosir 5 Tahun Tak Bisa Dilayari
Medan (SIB)

DPRD Sumut prihatin terhadap kondisi terusan Pusuk Buhit atau Tano Ponggol di Pulau Samosir Kabupaten Tobasa (Toba Samosir) sudah lima tahun sejak tahun 1998 hingga kini tidak bisa dilayari kapal, akibat pendangkalan pada dasar terusan tersebut.

Keprihatinan ini diungkapkan anggota DPRD Sumut Effendy Naibaho kepada wartawan, Senin (27/10) di gedung wakil rakyat tersebut, setelah melihat kondisi terusan Tano Ponggol di Tobasa.

Ia menyayangkan, anggaran yang disediakan Pempropsu hanya untuk studi proyek pengembangan dan pengolahan Tano Ponggol. "Padahal studi proyek ini sudah pernah saya protes langsung kepada Kepala Bappedasu, tapi tidak digubris. Yang diperlukan di Tano Ponggol itu pengerukan, bukan studi-studian", ujarnya.

Dalam hal ini, lanjut Effendy, pihaknya sangat mendukung usulan Bupati Tobasa Drs Sahala Tampubolon yang mengajukan usulan pengerukan Tano Ponggol tersebut kepada Pempropsu agar ditampung.

Mengingat keterbatasan APBD Tobasa, katanya, selain kebutuhan transportasi danau yang sangat potensial untuk angkutan umum dan pariwisata Bupati Tobasa mengusulkan pembangunan/pengerukan terusan Pusuk Buhit/Tano Ponggol Kecamatan Pangururan Kabupaten Tobasa di APBD Sumut atau APBN dan bantuan loan negeri sebesar Rp 10 miliar lebih.

Dengan biaya sebesar itu, tambah Effendy, terusan Pusuk Buhit diprogramkan dapat dilintasi kapal/ferry dengan pengerukan dasar terusan, pemasangan sheet file, lining beton pada kedua sisi terusan untuk menghindari longsoran tanah dan penggantian jembatan.

Disebutkan, pengerukan alur terusan Pusuk Buhit sepanjang 1.200 meter x 20 meter sedalam 3 meter dan sheet file/lining beton sepanjang 2.400 meter di kedua sisi terusan. Biaya pengerukan alurnya mencapai Rp 9.486.900.000, sedangkan lining beton tebing mencapai Rp 1 milyar lebih. Terusan Pusuk Buhit panjangnya 1.200 meter dengan lebar 20 meter, tinggi permukaan air terendah dari dasar terusan 0,5 meter dengan jembatan yang berada di atas 16,60 meter x 4,00 meter.

Dengan direalisasikannya pengerukan terusan tersebut, Effendy memastikan, lalu lintas danau keliling Danau Toba akan dapat berjalan kembali dan menunjang kelancaran prasarana hubungan transportasi danau, dalam rangka upaya peningkatan kunjungan pariwisata ke Tobasa dan membantu kelancaran transportasi bagi masyarakat Pulau Samosir.

Namun jika kondisi terusan sekarang dibiarkan, Naibaho memperkirakan, akan berdampak tidak aman terhadap kapal angkutan pariwisata mengelilingi Danau Toba/Pulau Samosir dari pelabuhan kota kecamatan/desa di Pulau Samosir.

"Bila hal ini dibiarkan terus, suatu ketika pulau Samosir akan menyatu dengan Pulau Sumatera. Ini-kan cukup tragis. Sudah waktunya Tano Ponggol dikeruk kembali, agar terusan Pusuk Buhit dapat dilayari kapal yang mengelilingi Danau Toba dari pelabuhan Ajibata-Balige maupun dari pelabuhan Tiga Raja-Haranggaol, serta kapal-kapal penumpang antar kecamatan di Samosir", ujarnya.

Dengan pendangkalan terusan Pusuk Buhit, Effendy mengatakan, lalu lintas pelayaran pariwisata melintasi terusan ini tidak dapat berlayar lagi seperti Sihotang-Haranggaol, Harian Boho-Haranggaol, Pangururan - Haranggaol, Tilas-Pangururan, Binangara-Pangururan. "Kondisi ini sangat merugikan masyarakat mengangkut hasil pertaniannya ke pelabuhan Ajibata/Balige", tambahnya.

Ditambahkannya, dalam mengembangkan potensi kepariwisataan, diperlukan program-program yang konsepsional, sistematis dan berkelanjutan. Karenanya, berkenaan dengan UU No 22/1999, Pemkab Tobasa memprogramkan pengerukan terusan Pusuk Buhit/Tano Ponggol untuk memfungsikan prasarana perhubungan danau mengelilingi Danau Toba, dalam upaya merangsang perluasan kerja, pemerataan hasil pertanian, peningkatan PAD untuk kesejahteraan masyarakat (A13/c)
 

Monday, October 27, 2003


  DPRD Tobasa Berhasil "Jolok" Menhub Bantu Bangunan Bandara Sibisa Rp 15 M
Medan (SIB)

DPRD Tobasa (Toba Samosir) berhasil ‘menjolok’ Menhub (Menteri Perhubungan) di Jakarta dan berjanji akan memberi dana bantuan pembangunan lapangan terbang Sibisa Tobasa sebesar Rp 15 miliar dalam APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) TA 2004, sehingga lapangan terbang tersebut bisa ‘go internasional’ dan didarati pesawat Boeing 747.

Hal itu diungkapkan Ketua DPRD Sumut Sanggam SH Bakkara kepada wartawan, Sabtu (25/10) di Medan sepulang dari Jakarta menemui Menhub membicarakan masalah bantuan dana pembangunan Bandara Sibisa.

"Tampaknya upaya kita meningkatkan pembangunan landasan pacu Bandara Sibisa dari 750 meter menjadi 2400 meter agar dapat didarati pesawat Boeing 747 akan berhasil. Menhub melalui Sekretaris Ditjen Perhubungan Udara Jakarta Siti Hardini menyanggupi permintaan DPRD dan Pemkab Tobasa membantu soal dana pembangunan Bandara tersebut," ujar Bonatua Sinaga.

Dana bantuan yang dijanjikan Menhub untuk pembangunan Bandara Sibisa itu, ujar Bonatua, akan dianggarkan dalam APBN TA 2004 dan diperkirakan jumlahnya mencapai Rp 15 miliar, sesuai dengan usulan DPRD Tobasa dan Bupati sebesar Rp 15.273.378.000.

Menurut Bonatua, Menhub juga sangat tertarik mendengar paparan DPRD Tobasa dalam hal pembangunan bandara kebanggaan kabupaten yang baru dimekarkan itu, sebab bertitik tolak terhadap peningkatan kunjungan wisatawan di Danau Toba dan Pulau Samosir sekitarnya.

"Apalagi secara gamblang kita paparkan, guna menarik wisatawan maupun investor di Tobasa, perlu dukungan transportasi udara, sehingga jarak tempuh dari Parapat yang merupakan objek wisata-Ajibata yang terletak di pinggiran Danau Toba sepanjang 11 Km bisa ditempuh dalam waktu 20 menit," ujar Bonatua.

Ditambahkan Bonatua, dalam pertemuannya dengan Menhub, pihak Perhubungan Udara juga berharap kepada Gubsu maupun Dinas Perhubungan Sumut segera membuat surat permohonan bantuan, agar pemerintah pusat maupun Panitia Anggaran DPR-RI yang sedang membahas APBN TA 2004 dapat segera menyetujuinya.

"Surat permohonan bantuan dari Gubsu maupun Dinas Perhubungan Sumut ini sifatnya hanya menguatkan, apalagi proyek pembangunan ini nantinya ditangani pihak Pempropsu, sehingga nampak adanya kerja sama antara Pemkab dengan Pempropsu," ujarnya.

Desak Gubsu dan Kadishubsu

Menanggapi keberhasilan DPRD Tobasa ‘menjolok’ dana pembangunan Bandara Sibisa ke Menhub, Ketua Fraksi Gabungan Sanggam SH Bakkara spontan mengacungkan jempol, seraya berucap ini merupakan sebagai bukti kepedulian wakil rakyat terhadap pembangunan di daerahnya.

"Ini suatu kebanggaan bagi DPRD Tobasa dan kita harapkan DPRD-DPRD lainnya, seperti DPRD Taput dalam membangun Bandara Silangit, Tapsel Bandara Aekgodang, Binaka Nias, Tapteng Bandara FL Tobing bisa bergerak cepat meminta bantuan guna meningkatkan pembangunan bandara di daerahnya," ujar anggota Komisi IV ini.

Dikatakan Sanggam, dengan disetujuinya dana bantuan pembangunan Bandara Sibisa, dipastikan Tobasa yang merupakan kawasan outer ring road kawasan Danau Toba bisa mengakses ke-6 kabupaten, seperti Kabupaten Simalungun, Karo, Dairi, Humbang Hasundutan, Taput dan Pakpak Bharat nantinya.

Pada 2004 nanti, ujar Sanggam, Bandara Sibisa sudah bisa beroperasi secara ‘go internasional’, dan didarati pesawat sejenis Boeng 747 dengan route Sibisa-Singapore-Jakarta-Kuala Lumpur, sehingga Tobasa atau Sumut khususnya akan sejajar dengan Propinsi Bali yang mendapat income tinggi dari sektor pariwisata.

"Kita sangat mengharapkan Gubsu dan Dishubsu segera menyurati Menhub soal permohonan bantuan dana tersebut. Begitu juga masyarakat diminta mendukung agar investor tidak ragu-ragu lagi menanamkan modalnya di daerah ini," jelas Sanggam. (A13/k)
 

Thursday, October 23, 2003


  Akibat Gorong-gorong Pecah Jalan Lingkar Pulau Samosir Terancam Putus
Balige, (Analisa)

Jalan lingkar (ring road) Samosir, jurusan Nainggolan Pangururan, terancam putus total, akibat pecahnya gorong-gorong besar yang mengalirkan Aek (sungai) Silinta desa Nainggolan Kecamatan Nainggolan Toba Samosir.

Menurut masyarakat Kecamatan Nainggolan, sejak awal Oktober hujan lebat terus menyiram daerah itu hingga Aek Silinta meluap membuat gorong-gorong besar buatan jaman penjajahan itu pecah dan badan jalan longsor dan jalan longsor dan jalan terancam putus. Gorong-gorong tersebut pecah bukan hanya disebabkan luapan air tapi juga disebabkan sudah reot termakan usia.

Kata masyarakat, Camat Kecamatan Nainggolan Rudolf Manurung sudah melaporkan kondisi jalan yang nyaris putus itu kepada Bupati Toba Samosir melalui surat yang tembusannya juga disampaikan kepada dinas jalan dan jembatan pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Penanggulangan sementara sudah dilakukan masyarakat yang dikordinir camat dengan cara melapis badan jalan dengan batang pohon kelapa, agar arus lalu lintas tidak sampai terhalang. Namun cara itu hanya bersifat sementara, menunggu Dinas Jalan dan Jembatan Provinsi Sumatera Utara turun tangan untuk membangunnya.

Masyarakat mengharapkan, Bupati Toba Samosir maupun Dinas Jalan dan Jembatan Provinsi Sumatera Utara segera membangun jalan tersebut, bila tidak maka hubungan lalulintas keliling pulau Samosir akan terputus.

Sebenarnya, kondisi jalan atau kerusakan jalan keliling bukan saja di kawasan Nainggolan, tapi juga sudah hampir di semua kawasan hingga kondisi itu mengurangi minat para turis manca negara berkunjung ke daerah tujuan wisata tersebut. (ep)

 

Sunday, October 19, 2003


  Kondisi Hotel di Parapat Makin Memprihatinkan
Jumat, 17-10-2003

Medan Bisnis – Medan
Parapat sepertinya menangis. Hampir tak ada kemajuan di daerah wisata andalan Sumatera Utara ini. Sebaliknya, yang ada hanya kemunduran. Jumlah wisatawan tidak juga meningkat, malah cenderung menunjukkan penurunan. Ini terbukti dengan rendahnya tingkat occupancy hotel di daerah tersebut. Memprihatinkan! Sejak masa kejatuhan (krisis ekonomi) 1997 silam, belum ada tanda-tanda terang bakal bangkitnya kembali usaha pariwisata di daerah itu. ”Kamar-kamar terisi kurang dari separuhnya,” aku H Manurung, Duty Manager Niagara Hotel & Resort, Parapat baru-baru ini.

Seperti halnya kebanyakan hotel dan penginapan-penginapan lainnya di kota wisata itu, Niagara hanya mampu mengisi (occupancy rate) 21%-23% dari daya tampung keseluruhannya. ”Bayangkan, manajemen harus menanggulangi biaya operasional sehari-harinya. Bahkan tak jarang, pihak manajemen hotel harus melakukan subsidi demi berlanjutnya usaha wisata ini,” katanya.

Diakuinya, di akhir pekan sebanyak 1/3 dari 179 kamar yang tersedia mendapat booking-­an. Mereka adalah wisatawan lokal yang datang dari Medan, Pematangsiantar, Padang atau Pekanbaru. ”Tapi, itu hanya berlangsung satu atau dua hari saja. Sesudahnya, kamar-kamar akan melompong kembali,”ujarnya.
Niagara, kata Manurung, merupakan satu-satunya hotel berbintang empat yang ada di kota turis itu. Seiring dengan masa keprihatinan itu, manajemen perusahaan melakukan beberapa penghematan. ”Tapi promosi kami terus jalan,” tukasnya.

Satu di antara promo yang digencarkan Niagara adalah paket Rp 50 ribu per malam, yang baru habis sepekan lalu. Selanjutnya, mereka sedang memikirkan cara-cara brilian untuk menggaji sekitar 150 karyawan dan merawat bangunan di atas 12 hektar itu.

Kondisi itu, sebenarnya tak jauh beda dengan yang dialami kebanyakan hotel dan penginapan lain. Bahkan tak jarang owner hotel memutuskan untuk menutup operasionalnya, karena tak sanggup mengeluarkan biaya maintenance, gaji dan biaya-biaya lainnya. Salah satu di antara korban kejatuhan itu adalah Hotel Tara Bunga Sibigo, yang ambruk sekitar dua tahun silam. Jika kondisi ini berlarut-larut, maka bukan tidak mungkin ada hotel lain yang mengikuti jejak Tara Bunga. (yat) 

Tuesday, October 14, 2003


 
DPRD Simalungun Minta Segera Perbaiki Tannggul Jebol di Parapat
Pematang Siantar, (Analisa)

Ketua Komisi D DPRD Simalungun Sabar Maruli Simarmata mengimbau Pemkab secepat mungkin memperbaiki jebolnya tanggul irigasi Sidari Girsang Nagori Girsang Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Parapat.

“Jika tidak secepatnya ditanggulangi, dikhawatirkan para petani setempat tidak akan dapat mengikuti pola tertib tanam,” katanya kepada Analisa, Senin (13/10) sebelum bertolak meninjau lokasi jebolnya irigasi bersama sejumlah anggota dewan.

Menurut Sabar Maruli, bila tak dapat mengikuti pola tertib tanam, petani akan kehilangan pendapatan sebab tak bisa panen.

Bentuk penanggulangan sementara itu, kata Sabar, bisa saja Bupagti Simalungun menghunjuk (PL) salah seorang rekanan kontraktor yang benar benar bonafid atau berkualitas sebelum ditampung di APBD.

Hal ini penting, untuk menyelamatkan tanaman padi petani, ujarnya. “Tetapi yang jelas kita lihat dulu di lapangan, karena kabarnya masyarakat gotong royong membetuli irigasi itu”, tambahnya.

Jebolnya tanggul irigasi Sidari Girsang sepanjuang puluhan meter dengan kedalaman 8 meter itu, sehingga seluas ratusan hektare areal persawahan terancam kekeringan.

Sementara M Sihite salah satu Kasubdis pada Dinas Pengairan Simalungun yang mendapingi tim DPRD meninjau ke lapangan mengatakan, jebolnya tanggul irigasi itu, akibat bencana alam dan mengancam seluas 131 hektare areal persawahan petani dan tak dapat mengikuti pola tanam.

Diproyeksikan, perbaikan irigasi itu menelan biaya ratusan juta rupiah. Bila tak secepatnya ditanggulangi, para petani tidak akan dapat mengikuti jadwal pola tanam pada Desember 2003.

Masalah ini juga sudah dilaporkan kepada Bupati Simalungun, kata Sihite seta menambahkan, untuk penanggulangan sementara diupayakan swadaya masyarakat. (ama/tps)

 

Monday, October 13, 2003


 
Itikad Baik TPL dan Mitranya Dinantikan Keluarga Korban

Pematang Siantar, (Analisa)

Tagih tanggung jawab PT TPL dan mitranya, sehubungan truk pengangkut kertas PT TPL menimpa bus penumpang Wisata Indah Danau Toba di Desa padar Baru Kasindir Tiga Dolok Kecamatan Dolok Panribuan belum ada realisasinya.

Dalam musibah yang terjadi, 17 September 2003 itu, empat tewas, dua di antaranya penumpang bus Wisata Indan dan dua lagi supir dan kernet truk. Sementara tiga penumpang bus Wisata Indah hingga kini tagih tanggung jawab PT TPL dan mitranya.

Menurut siaran pers pengurus angkutan umum Wisata Indah Danau Toba Anggiat Sinaga SE kepada wartawan di Pematang Siantar, Rabu (8/10) setelah terjadi aksi penghempangan truk pengangkut kertas PT TPL oleh masyarakat di sekitar lokasi kecelakaan, 23 September 2003 melalui surat kabar terbitan Medan, pihak CV Tunas Baru sebagai mitra PT TPL mengeluarkan statemen yang menyatakan, CV Tunas Baru bertanggungjawab.

Namun, hingga saat ini tanggung jawab yang dinyatakan itu, tidak pernah terwujud, hingga pihak keluarga korban yang tewas dan luka luka serta pengusaha angkutan Wisata Indah yang remuk ditimpa truk sarat muatan kertas itu menjadi marah.

Berdasarkan kenyataan, PT TPL bersama mitranya hingga saat ini tak menunjukkan kepedulian sosial dan tanggung jawab terhadap kecelakaan itu.

Kini keluarga korban kecelakaan dan pengusaha bus Wisata Indah menantikan perhatian dari PT TPL dan mitranya.

Karena, baik keluarga korban maupun pengusaha bus Wisata Indah Danau Toba tak menginginkan peristiwa penghempangan truk pengangkut kertas itu terjadi kembali, sepanjang ada iktikad baik dari PT TLP dan mitranya.

Tetapi, jika melihat kenyataan saat ini, bukan tak mungkin peristiwa penghempangan itu terjadi kembali, kata Anggiat. (tps)

 

Monday, October 06, 2003


 
Atlet Sumut Siap Kembangkan Gantole Di Danau Toba
SIMALUNGUN (Waspada): Empat atlet Sumut yang lulus mengikuti pendidikan dan latihan Gantole tingkat nasional di Jateng siap mengembangkan olahraga layang gantole di Parapat Danau Toba dan Perkebunan teh Kabupaten Simalungun.

Empat atlet itu Tulus Manurung, Imran Jefri Sinulingga, Fauziah dan Nuryanti Saragih. "Semuanya mereka mahasiswa di Medan dan sudah memperoleh sertifikat maupun wing sebagai tanda lulus pendidikan dan latihan gantole tingkat nasional di Jateng Juli 2003 lalu," kata Pengurus Gantole Sumut DR Philips Rusihan Surbakti di P Siantar Rabu (24/9).

Keempatnya berangkat ke Jateng mengikuti diklat dengan misi pengembangan gantole di Sumut. Oleh karenanya pengurus gantole Sumut bekerjasama dengan Pemkab Simalungun mendukung misi ini sehingga diversifikasi olahraga terkait pariwisata makin berkembang di Simalungun.

DR Philips sebagai asisten pelatih mendampingi para atlet berlatih di kawasan pantai Parangtritis-Yogyakarta dan Perkebunan teh Kemuning-Tawangmangu Jateng. Sedangkan pelatih utama Eris sebagai instruktur gantole pusat dibantu Anthon Rusli asisten pelatih di Jateng. Materi latihan telah diikuti meliputi tepri penerbangan menggunakan gantolle, meteorologi, penguasaan cuaca dan praktek dasar terbang gantolle.

Keempatnya dinyatakan lulus dan mendapat sertifikat maupun wing diserahkan Ketua Persatuan Layang Gantung Indonesia (PLGI) Pusat cabang gantolle Edgar Eka Putra di Solo, Juli 2003.

Menurut DR Philips, pengurus gantolle Sumut bekerjasama dengan calon pengurus gantole Simalungun siap mengembangkan olahraga dirgantara itu sesuai potensi sumber daya alam di Danau Toba dan Perkebunan teh di Simalungun. Demontrasi gantole tahap kedua digelar November mendatang bersamaan dengan Pesta Solu Bolon 2003 diprakarsai Menakertrans Jacob Nuwa Wea.

Juli tahun lalu, Menakertrans Jacob Nuwa Wea memberikan saran agar gantole dikembangkan di kawasan Danau Toba. Ketika itu Menteri langsung menyambut atlet gantolle nasional Eris dan Budi dari Jabar dan Jateng yang demontrasi terbang dari Bukit Simarbalatuk. Terbang sekitar 30 menit di udara Parapat, keduanya mendarat di lapangan Niagara Hotel Parapat.(a14) am

 

Saturday, October 04, 2003


 
Tingkat Hunian Hotel di Parapat 30%-70%
* Negara ASEAN Diundang Pada PRDT 2004

Medan Bisnis – Medan
Sejumlah negara-negara ASEAN diundang untuk menampilkan aneka budaya dan seni pada kegiatan Pesta Rakyat Danau Toba 2004 di Parapat. Acara ini kelak bisa dipastikan berlangsung semarak dan bakal mendapat perhatian luas dari kalangan wisatawan dalam dan luar negeri untuk berlibur ke Danau Toba, Sumut.

”Pada tahun 2004, kami mengundang peserta dari negara ASEAN, seperti Malaysia, Singapura dan Thailand untuk tampil pada acara pesta itu,” kata penyelenggara Pesta Rakyat Danau Toba, Sumut, Hisar P Gurning, di Porsea, Minggu (7/9). Acara itu digelar melihat suksesnya kegiatan sejenis yang baru saja dilakukan pada Agustus 2003. Selama delapan hari berlangsung, jumlah pengunjung rata-rata setiap hari 40.000 orang.
Tidak ada dana pemerintah untuk mendukung acara itu, semua atas dana pribadi kendati demikian pihaknya tidak menutup kemungkinan investor berpartisipasi pada acara itu kelak.

Negara-negara yang ambil bagian pada kegiatan itu bisa memanfaatkan ruang khusus untuk menampilkan berbagai seni dan budaya serta mempromosikan potensi wisata yang ada di negaranya. Acara tersebut memberikan dampak luas untuk menarik kunjungan wisatawan ke Sumut, dampaknya juga bermuara kepada masyarakat dan pengusaha hotel di kawasan Danau Toba yang akan selalu penuh. ”Permasalahan sekarang adalah bagaimana setelah pesta itu berakhir, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Danau Toba juga sepi, jadi ini perlu dipikirkan tindak lanjutnya,” ujarnya.

Tingkat Hunian
Sementara itu, berdasarkan keterangan yang dihimpun dari pengelola hotel di kawasan Danau Toba, terutama di Parapat menyebutkan, tingkat hunian kamar hotel pada akhir pekan berkisar 30%-70%. Tingkat hunian 70% itu hanya terjadi pada sebuah hotel berbintang di kawasan itu. ”Kalau pada hari-hari biasa sepi, akhir pekan mencapai 50%-70%, selepas itu sepi kembali,” ucap salah seorang petugas hotel. (kcm)

 


 
Pesta Solu Bolon 2003 Dicanangkan Sebagai Gong Kebangkitkan Wisata Sumut
Medan Bisnis – Medan
Pesta Solu Bolon Danau Toba 2003, yang akan diselenggarakan pada akhir November 2003 di Ajibata-Tomok-Parapat, yang bertepatan dengan hari Pariwisata International, akan dicanangkan sebagai gong kebangkitan wisata Sumut.

Demikian disampaikan Ketua Panitia Nasional Pesta Solu Bolon Danau Toba, MSM Simanihuruk didampingi sekretaris Binsar Silalahi saat berkonsultasi kepada Gubsu T Rizal Nurdin, Jumat (29/8) di ruang kerjanya.
Diungkapkan MSM Simanihuruk, Pesta Solu Bolon ini akan diisi dengan 9 kegiatan, antara lain perlombaan Solu Bolon, lomba triathlon, pesta seni dan budaya rakyat, gebyar produk wisata, lomba memancing, hiburan rakyat, kampanye publik kebangkitan wisata Danau Toba dengan puncak acara yaitu napak tilas ”Putra Sang Fajar”. Pada acara napak tilas nantinya, direncanakan akan mengundang Presiden RI Megawati Soekarnoputri. ”Jika beliau hadir, maka kita harapkan ibu Megawati disuguhkan peranan untuk menapaki perjalanan ”Sang Ayah” dan merenungi kembali keberadaan ”Putra Sang Fajar” dipengasingan yang sekarang menjadi Istana Pesanggarahan Bung Karno,” ungkap MSM Simanihuruk.

Dari pesanggrahan, perjalanan akan dilanjutkan ke Ajibata yang juga merupakan bagian dari tempat Bung Karno diasingkan. Kali ini kegiatannya sekaligus untuk mencanangkan gong kebangkitan wisata Sumut. dan diharapkan Presiden Megawati akan mencanangkan proyek-proyek wisata yang berskala besar di sekitar Danau Toba, untuk pengembangan kepariwisataan guna meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat di sekitarnya. Dijelaskan, Pesta Solu Bolon dipertandingkan dalam 3 kategori antara lain, lomba hias menghias, lomba dayung bergrup dan lomba perorangan. Di samping itu, untuk mendorong maraknya produk-produk wisata kawasan Danau Toba, maka panitia dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan berencana akan mengkoordinir toko-toko atau kios penjual barang-barang suvenir, yang berfungsi sebagai alat promosi wisata Danau Toba.

Gubsu menyambut baik kegiatan itu, karena Danau Toba menyimpan berbagai potensi yang dapat mendorong untuk meningkatkan sektor pariwisata di Sumut. Gubsu juga berharap, agar kegiatan seperti ini jangan hanya seremonial belaka tanpa ada follow up. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang baik. Sehingga, panitia hendaknya dapat melibatkan semua unsur terutama swasta dan pemerintah kabupaten di sekitar Danau Toba, ungkap Gubsu lagi.(rel/vin)

 


 
2004, Jalan Pematangsiantar- Parapat akan Ditingkatkan
Medan Bisnis – Medan

Kepala Dinas Jalan dan Jembatan Pempropsu, Ir Roslila Sitompul, menyatakan, Pempropsu telah menjadwalkan akan melakukan peningkatan jalan Pematangsiantar - Parapat sepanjang 40 km pada 2004. Disebutkannya, proyek peningkatan jalan di kawasan itu memang telah dianggarkan sejak TA 2003, namun anggaran yang tersedia masih sangat terbatas.

“Pada TA 2003, anggaran untuk perbaikan jalan Pematangsiantar - Parapat memang telah ada, tetapi anggaran yang tersedia hanya cukup untuk melakukan peningkatan jalan sepanjang 2,5 km, pemasangan bronjong dilokasi longsor, pembuatan parit dan galian. Karenanya, untuk memantapkan jalan tersebut akan dianggarkan pada 2004,” katanya.
Oleh karena itu, Roslila meminta masyarakat untuk bersabar, karena untuk tahun ini anggarannya masih terbatas.
“Kan, tinggal beberapa bulan lagi tahun 2004. Tahun depan jalan itu akan dimantapkan,” katanya kepada Medan Bisnis, Kamis (2/10), melalui telepon.
Sebelumnya, utusan masyarakat dari Kabupaten Simalungun telah minta Pempropsu melalui Kadis Jalan dan Jembatan dapat menyisihkan anggaran untuk memantapkan jalan sepanjang 40 km tersebut. Pasalnya, jalan menuju objek wisata Danau Toba itu hingga saat ini belum dimantapkan.
“Memang saat ini jalan dari Pematangsiantar ke Parapat sedang diperbaki, tetapi masih sebagian saja. Seharusnya, jalan sepanjang 40 km itu harus dimantapkan semuanya, jangan yang diperbaiki sedikit,” kata M Purba, salah seorang warga kepada Medan Bisnis, kemarin.
Informasi yang diterima Medan Bisnis, sebesar Rp 3,5 miliar dana dianggarkan untuk pengaspalan jalan sepanjang 2,5 km, memasang bronjong, pembuatan parit dan galian yang saat ini sedang dalam tahap pengerjaan. (mul)

 


 
Tali Air Rusak Dihantam Longsor
Ratusan Hektare Sawah di Parapat Kekeringan


Parapat, (Analisa)

Lebih kurang 210 hektare areal persawahan di Kota Turis Parapat, 200 hektare di antaranya di Kelurahan Girsang dan 10 hektare di Desa Sipangan Bolon kekeringan.
Pasalnya, tali air Sidari di Kelurahan Girsang putus dihantam tanah longsor diperkirakan sepanjang 75 meter dengan kedalaman 8 meter pada patok 3 dan 4, Minggu (28/9) dinihari.

Lurah Girsang Demai Sinaga ketika dikonfirmasi Analisa di kantornya, Kamis (2/10) mengakui tali air Sidari putus akibat dihantam tanah longsor. Menurut Lurah, peristiwa mengejutkan para petani itu sudah dilaporkan kepada Camat Parapat Jonni Saragih SIp.

Putusnya tali air itu, cukup fatal karena tak bisa diperbaiki secara darurat melainkan harus permanen. Masyarakat susah mencoba bergotong royong memperbaikinya, tetapi tidak berarti. Sawah yang kekeringan akibat tali air putus itu, meliputi persawahan petani Sigalagala, Gonting, Lajangan, Sitalolo, Sitahuan, sekitar komplek Sosor Galung II dan Desa Sipangan Bolon.

Mendiskusikan penanggulangan sementara, pihak pemerintah kedua daerah mengundang masyarakat, Senin (6/10) mendatang. Melihat kondisi tali air cukup parah itu, diperkirakan biaya memperbaikinya sebesar Rp 800 juta. Hal ini membuat masyarakat bertambah bingung, katanya.

Demak Sinaga mengatakan, ironisnya akibat peristiwa putusnya tali air itu, miniman setahun masyarakat tidak bisa mengelola areal persawahannya. Bahkan tragisnya, akibat putusnya tali air itu besar kemungkinan masyarakat akan kelaparan, karena 200 dari sekitar 300 hektare areal sawah, kini sudah tak berfungsi lagi.

Guna menjaga masyarakat jangan sampai kelaparan, pihak berwenang segera mungkin memperbikinya. Karena warga Girsang dan Desa Sipangan Bolon mayoritas bermata pencaharian dari bertani. Menjawab pertanyaan, Demak Sinaga mengatakan, seperti biasanya pada Oktober masyarakat sudah bersiap siap untuk melakukan penanaman. Tetapi, karena musibah itu masyarakat hanya pasrah dan bingung memikirkan masa depan.

Sejumlah petani di Girsang ketika dihubungi mengatakan, akibat putusnya tali air itu, mereka tidak tahu lagi berbuat apa. Karena hanya dari bertanilah mata pencaharian mereka. Mereka mengharapkan agar pemerintah menaruh perhatian terhadap masalah yang dihadapi saat ini, terutama agar secepatnya memperbaiki taloi air yang putus itu. (tps)

 

Friday, October 03, 2003


 
Masyarakat Mengamuk Sandera Dua Truk TPL
Pematangsiantar (SIB)

Rentetan peristiwa kecelakaan truk PT TPL (Toba Pulp Lestari) bermuatan kertas BK 9982 BJ dengan Angkot (Angkutan Kota) Wisata Indah di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Km 15,5 Kampung Pasar Baru Desa Dolok Tomuan Kecamatan Dolok Panribuan Tiga Dolok Kabupaten Simalungun yang menewaskan empat orang, dua luka berat dan dua luka ringan, Rabu (17/9) berkepanjangan.

Masyarakat anti TPL khususnya Kampung Pasar Baru Desa Dolok Tomuan Kecamatan Dolok Panribuan mengamuk, Kamis (18/9). Dua unit truk TPL bermuatan kertas BK 8942 DG dan BK 8583 BD ditahan saat melintas di desa tersebut. Demikian pula kedua mobil yang tabrakan yakni truk BK 9982 BJ dan Angkot Wisata Indah BK 1922 TR masih ditahan masyarakat di TKP meminta pertanggungjawaban pihak PT TPL dalam hal ganti rugi yang dialami masyarakat di sekitar lokasi kejadian.

Menurut beberapa masyarakat yang sempat dimintai keterangannya di TKP yakni S Situmorang, Sianipar, Simamora, D Manurung menyesalkan kebijaksanaan pihak PT TPL yang tidak perduli terhadap musibah serta kerugian masyarakat setempat. DIatakan, peristiwa kecelakaan kemarin merupakan peristiwa kedua terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagaimana dijelaskan D Manurung pada 22 Juli 2003 lalu dit empatyang sama mobil trukbermuatan kertas milik TPL menabrak seorang ibu rumah tangga yang tinggal di desa itu dan empat rumah sekaligus milik S Situmorang, JL Sianipar, H Simamora, J Sianipar hancur berkeping-keping. Akibat peistiw aitumasyarakat setempat mengalami kerugian Rp 80 juta. Kendati demikian hingga saat ini masyarakat yang rumahnya hancur ditabrak truk TPL belum menerima apa-apa dari pihak PT TPL.

Menyusul peristiwa kecelakaan yang menewaskan empat orang, dua luka berat dan dua luka ringan oleh truk PT TPL bermuatan kertas dengan Angkot Wisata Indah, Rabu (17/9) ditempat yang sama membuat amarah masyarakat semakin memuncak. Sejak Kamis (18/9) pukul 05.00 WIB subuh masyarakat setempat menghadang truk TPL dan tidak memperbolehkannya melintas dari kawasan tersebut. Mereka juga menggelar beberapa poster bertuliskan "jangan jadikan kota ini kota mayat, tutup Indorayon, truk ini disita sebelum ada pertanggungjawaban. TPL membuat susah masyarakat demon, PT TPL selalu mencemaskan masyarakat".

Dari pengamatan SIB di lapangan tampak Kapolsek Tiga Dolok AKP Muslim bersama beberapa anggotanya serta puluhan anggota Polres Simalungun dari satuan Samapta, Intel Kam, Reskrim tampak berjaga-jaga mengantisipasi amukan massa. Sedangkan puluhan ton kertas bertuliskan Toba Fulp EUPP hingga berita ditulis masih berserakan di lokasi kejadian.

Kapolres Simalungun AKBP Drs Gatta Chairuddin SH melalui Kasat Lantas AKP Tulus J SiP ketika dimintai keterangannya sehubungan dengan upaya yang dilakukan atas kejadian tabrak maut tersebut mengatakan, bahwa pihaknya akan mengupayakan pengurusan jasa raharja terhadap para korban kecelakaan baik yang meninggal maupun luka-luka secepat mungkin. Biasanya bagi yang korban kecelakaan meninggal akan mendapat jasa raharja Rp 10 juta per orang, sedangkan luka-luka lainnya akan dinilai pihak jasa raharja dari sisi penderitaan korban laka lantas tersebut.

Lebih lanjut dari pengamatan SIB di beberapa rumah sakit diantaranya RSU Parapat, RSU Horas Insani, RSU Pematangsiantar dan RSU Tentara para korban luka berat dan ringan yakni Deston Sinaga (28) penduduk Jalan Bangun Dolok Parapat, Herianto (21) penduduk Blang Pase Kecamatan Langsa, Benget Ambarita (22) penduduk Marihat Huta Tiga Dolok dan Tiurma Br Sirait penduduk Parapat masih menjalani perawatan medis.

Sedangkan keempat mayat korban kecelakaan tersebut yakni Sintauli Br Situmorang, penduduk Jalan Anggarajin Parapat, Parmono (34) penduduk Jalan Mawar Purba Sari. Kecamatan Tiga Dolok, Purnama Br Haloho penduduk Parapat dan mayat laki-laki yang identitasnya belum diketahui telah diambil keluarganya masing-masing setelah divisum di RSU Pematangsiantar.

Hingga Kamis (18/9) sore pihak PT TPL belum ada yang datang ke lokasi kejadian mencari solusi terbaik, demikian pula truk PT TPL tidak satupun yang berani melintas dari Jalinsum Km 15,5 Kampung Pasar baru Desa Dolok Tomuan kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun.

MASYARAKAT MINTA PETUGAS JEMBATAN TIMBANG SERIUS

Beberapa masyarakat di Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun meminta dan mengharapkan pihak petugas timbangan benar-benar serius melaksanakan tugas di jembatan timbang yang ada di kawasan Pematangsiantar maupun Kabupaten Simalungun. Sebab dugaan masyarakat akibat ketidak seriusan petugas timbangan melakukan tugasnya salah satu penyebabnya seringnya terjadi kecelakaan lalulintas di jalan. Salah satu contoh selama ini tonase muatan truk PT TPL slalu diatas maksimal namun selalu lolos dari jembatan timbang. Umumnya truk bermuatan lebih tidak jarang mengalami kecelakaan lalu lintas hingga memakan banyak korban jiwa. (B7/c)

 


 
Pembentukan Provinsi Tapanuli Memungkinkan Disahkan Sebelum Pemilu 2004
Selasa, 30 September 2003

SIBOLGA ( Beritasore.com ): Keberadaan Provinsi Tapanuli yang telah mendapat persetujuan dari 4 kabupaten/kota dikawasan Sumatera Utara (Sumut) diantaranya Kota Sibolga Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Tobasa masih memungkinkan untuk diwujudkan sebelum Pemilu 2004.

Untuk itu kepada seluruh panitia pemprakarsa agar segera menindaklanjuti agar provinsi yang merupakan dambaan kita bersama dapat segera terwujud.

Demikian dikatakan anggota DPRD Kota Sibolga St Pittu Banjarnahor, S.Sos menjawab wartawan prihal kemugkinan pembentukan Provinsi Tapanuli era Pemilu mendatang, Selasa (30/9) di Kantor DPRD Kota Sibolga.

'Kepada seluruh panitia pemprakarsa Provinsi Tapanuli agar lebih giat serta berperan aktif dalam menindaklanjuti permohonan mengenai Provinsi Tapanuli, alangkah baiknya daerah kita ini terwujud menjadi provinsi karena menurut informasi masih ada kesempatan sebelum Pemilu', katanya.

Ketua Fraksi PDKB DPRD Kota Sibolga ini juga menambahkan pernah mengemukakannya kepada Pemko Sibolga sebagai pihak eksekutif di kawasan Sibolga saat pandangan umum P-APBD 2003 baru-baru ini di ruang rapat kantor DPRD Kota Sibolga dan mendapat respon positif dari Pemko.

Terbukti dalam jawaban Walikota Pemko Sibolga Drs Sahat Pinorsita Pangabean, MM yang dibacakan Wakil Walikota Drs H Agussalim Harahap, MM atas pandangan umum para anggota DPRD Kota Sibolga tentang PAPBD Kota Sibolga 2003.

Ditempat terpisah, Kabag Humas Pemko Sibolga Edison Sitorus, S.Sos menjawab Berita, Selasa (30/9) di ruang kerjanya mengatakan Pemko Sibolga telah ikut ambil bagian dalam rangka pembentukan Provinsi Tapanuli dengan menerbitkan surat rekomendasi No 070/60997/2002 tertanggal 28 Oktober 2002.

Yang menyatakan setuju dan mendukung serta mengusulkan pembentukan Provinsi Tapanuli dimana rekomendasi itu telah disampaikan kepada gubernur Sumut surat No 070/6136/2002 tertanggal 30 Oktober 2002.

Dari catatan yang diperoleh Berita di Sibolga menguraikan daerah Tapanuli sudah layak menjadi daerah tingkat I (Provinsi) mengingat daerah Tapanuli mempunyai sumber kekayaan alam seperti ikan dari Kota Sibolga, karet dari daerah Tapanuli Tengah (Tapteng), kopi dari daerah Humbang.

Kemenyan dari daerah Doloksanggul, belereng dari daerah Silindung, kacang dan bawang dari daerah Samosir, sayur-mayur dari daerah Humbang, ternak dari daerah padang lawas dan daerah Humbang, padi dari daerah Toba.

Tidak ketinggalan obyek wisata yang menjanjikan dikawasan Tapanuli seperti keindahan Danau Toba, pantai dikawasan Sibolga/Tapteng.

Semua kekayaan alam tersebut dapat digali untuk membiayai pembangunan disamping subsidi yang diperoleh dari pemerintah pusat. (c.tm/c.mr) 

Situs ini menampilkan artikel tentang Ajibata Parapat dan sekitarnya di dalam satu website.Kritik dan Saran kirim melalui email ke sczove@yahoo.com


  • September 2003
  • October 2003
  • November 2003
  • December 2003
  • January 2004
  • February 2004
  • Anggun Priyatmoko
    Ernest Simbolon

    Name :
    Web URL :
    Messege :

    blogger
    blogskins
    Hariansib
    Waspada
    Harian Analisa
    Harian Medan Bisnis
    Harian Berita Sore
    w4rnawarni